Entrepreneur Sukses Bisnis Batik Ecoprint Malang, Bikin Bupati Sanusi Kagum dan Bangga

Malang – Sanggar Kreasi Mamalya (SKM) yang didirikan oleh Siti Mudrika yang berlokasi di Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini mencatat prestasi.

Pasalnya, sanggar ini telah berhasil mengembangkan kerajinan batik dengan metode ecoprint berbasis pewarnaan alami dan kini dikenal luas hingga pasar internasional.

Bupati Malang Muhammad Sanusi beserta istri Haji Anies Jida mengunjungi rumah Ny Siti Mutudlika, entrepreneur sukses yang menggeluti batik ecoprint tersebut pada Rabu (5/2/2025)

Kedatangan Sanusi dan istrinya disambut hangat oleh Serka Donatus Rema, Babinsa Desa Mulyoagung Koramil 0818/29, Kecamatan Dau, suami dari Ny Mutdrika, yang lulusan Ilmu Politik namun tak mau jadi anggota dewan dan memilih jadi pengusaha.

Begitu masuk, orang seperti disapa dengan beberapa pajangan foto Ny Mutdrika bersama istri para petinggi TNI AD. Pasalny, foto tersebut diberi keterangan bahwa yang foto bersamanya merupakan istrinya para jendral bintang empat, yang pernah jadi orang penting di negeri ini, sehingga semua tamu pasti tahu siapakah yang ada di dalam foto tersebut.

“Pak Bupati, batik ecoprint buatan istri saya ini sudah dikenal di luar negeri. Itu karena diperkenalkan (dipakai) para ibu-ibu panglima, yang ada di foto itu saat kunjungan ke luar negeri,” tutur Donatus.

Di sanggar itu, bukan cuma ada banyak kain batik, namun juga ada baju batik dan jaket batik. Juga ada beraneka macam pernak-pernik seperti gelas, juga dibatik dengan motif ecoprint.

Dengan lebih dari 2.140 anggota di Indonesia dan lima anggota di luar negeri seperti Australia, Hongkong, Singapura, Malaysia, dan Vietnam, SKM tidak hanya menjadi pusat pelatihan tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.

Siti Mudrika, pendiri SKM, menceritakan perjalanan inspiratif sanggar ini yang dimulai dari pelatihan ecoprint hingga kini menjadi penggerak ekonomi kreatif.

“Kami tidak hanya melatih teknik ecoprint, tetapi juga memberikan peluang bagi anggota untuk berkreasi dan memasarkan hasil karya mereka. Saat ini, anggota yang sudah ikut pelatihan berhak memproduksi dan menjual produk berbasis ecoprint, baik untuk pasar lokal maupun internasional,” ucapnya, Rabu (5/2/2025).

Produk batik berupa tas, sepatu, sandal, kemeja, dan beberapa hasil kreasi dari sanggar ini telah berhasil menembus pasar global, khususnya Australia, dengan berbagai produk seperti kain, syal, baju, dan dompet. Sesuaikan dengan namanya ecoprint, yang tak lain adalah ekosistem dan print atau mencetak. Sehingga semua produknya bermotif daun, bunga, ranting pohon, seperti daun Jati Afrika, bahkan daun Kenikir pun, juga ada.

“Barang-barang kita sudah diekspor ke Australia. Saat ini, ada 32 item yang akan segera saya kirim, termasuk 10 baju dan 15 dompet. Kalau untuk Vietnam, itu masih baru. Sebulan terakhir mereka mulai membeli bahan baku dari kita, dan saya sangat senang melihat perkembangan ini,” ujar Ibu persit ini.

Kerja sama dengan ekspedisi mempermudah SKM mengirimkan produk ke luar negeri. Siti menambahkan jika proses pengiriman dilakukan secara rutin, dan semua produk ini nantinya dijual kembali oleh anggota kita di negara tujuan.

“Mereka menjual tanpa label resmi sanggar, tapi tetap harus bisa menjelaskan proses pembuatan ecoprint kepada pembeli, sehingga edukasi tetap berjalan,” tukasnya.

Di hadapan orang nomer satu di Kabupaten Malang itu, Ny Mutdrika, menuturkan, batik Ecoprint itu mengandalkan bahan dari alam semua untuk menghasilkan cetakan. Untuk membikin batik yang diinginkan, misalnya daun, maka daun asli yang masih segar itu ditempelkan di atas kain.

Lalu, diberi penutup plastik dan diinjak-injak untuk membentuk karakter daunnya. Itu proses mordanting. Setelah karakter daunnya sudah terprinting di kain, baru di-steam atau dikukus sekitar 2 jam buat menguatkan karakter motifnya.

“Karena semuanya dari bahan alam murni, sehingga ibu-ibu pejabat (petinggi TNI) dan orang luar negeri sangat menyukainya. Daun atau bunga itu ya impor dari Afrika.”

“Namun, harganya tetap terjangkau atau harga pasar dalam negeri. Misalnya, kain batik buat baju ini, ya cuma sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Itu kain sutera impor dari Singapura, lho,” tutur Ny Mutdrika, membuat Hj Anis Zaida, terus kagum itu.

Dalam kunjungan tersebut Bupati Malang, Sanusi memberikan dorongan semangat baru bagi SKM. Siti menyampaikan harapannya agar SKM mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

“Saat bertemu Bupati, beliau menyarankan agar saya mendesain produk dengan tema Garuda. Saya harap desain ini dapat diterima dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Semoga nantinya, sanggar ini semakin berkembang dan membawa nama baik Kabupaten Malang hingga ke mancanegara,” tuturnya.

Berita ini juga dimuat di suryamalang.tribunnews.com dan suarajatimpost.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *